Belajar dari Belgia untuk Bisnis Kita Sendiri

Belgia!

Negara penghasil coklat nomer 2 di dunia. Tidak ada yang kenal dengan negara kecil ini sebelumnya. Bagi yang sudah menjadi maniak sepakbola sejak jaman 90an tidak akan asing sebenarnya dengan negara ini. 


Lebih tepatnya di piala eropa tahun 2000 belgia, bersama belanda menjadi tuan rumah bersama piala eropa pada waktu itu...

Semua berawal di tahun 2000 itu, dan belgia sekarang ini memetik hasil buah manisnya. Jika ada penikmat sepakbola, atau bahkan bukan penikmat bola sekalipun, pasti anda heran dengan negara ini. 
Belgia saat ini di isi pemain pemain kelas nomer 1 di tim nasionalnya...


Mulai dari penjaga gawang, bek, gelandang, penyerang, hingga pemain cadangan, semuanya merata pemain kelas nomer 1. 

Jika saya tidak salah, belgia yang saat ini sedang berlaga di pilaa dunia 2018 di rusia, hanya di isi oleh 1 pemain yang asalnya dari liga lokal belgia itu sendiri, 22 pemain sisanya berlaga di liga liga top eropa seperti inggris, spanyol, italia, dan cina. 

By the way liga cina itu top gak sih? Hehe

Jangan kaget..
Belgia mendapatkan berkah ini bukan dengan hasil instant. Semuanya berawal dari tahun 2000 yang ketika itu belgia benar benar hancur lebur. 

Sebagai tuan rumah piala eropa, jangankan lolos babak 8 besar, bahkan tidak lolos babak penyisihan grup ketika itu...

Alhasil..
Salah satu petinggi sepakbola belgia ketika itu mengeluarkan sebuah program yang bernama CETAK BIRU (Blue Print) yang di rasakan hingga saat ini..

Butuh waktu 2.5 tahun lama cetak biru ini bener bener diterima oleh warga belgia. Butuh waktu 6.5 tahun lamanya program ini benar benar bisa di terapkan di belgia juga..

Programnya pun sangat simple..

Secara singkat inti dari program ini adalah membina para pemain muda mulai usi 8 tahun untuk mencintai sepakbola. Generasi emas belgia saat ini, salah duanya adalah hazard dan kevin de bruyne adalah pemain jebolan cetak biru ini. 

Sejak usia 8 tahun mereka sudah di kenalkan dengan sepakbola, hingga pada usia emas ini..

Setidaknya..
Belgia butuh 18 tahun lamanya untuk mendapatkan hasil dari program ini. Kita bisa melihat, generasi emas ini membuat belgia yang di edisi piala dunia sebelumnya hanya jadi tim kuda hitam, untuk piala dunia 2018 kali ini mereka menjadi negara unggulan, 

bersanding dengan negara besar seperti brazil, perancis, argentina (sudah pulang duluan malah), jerman (gak lolos penyisihan grup bahkan),dan lainnya. 

Belgia benar benar paham dan mengerti bahwa untuk sukses, khususnya di bidang sepakbola tidak bisa dilakukan dengan cara instant. Tidak bisa langsung menjadi juara. Tidak bisa langsung ada hasilnya..

18 Tahun bukan sesuatu yang singkat, kan?

Nah pertanyannya...

Apa yang dilakukan oleh belgia memang hampir sepenuhnya berbau sepakbola, meskipun pada akhirnya juga ada arus bisnis di dalamnya pastinya.....


Dengan proses sepanjang itu..
Apakah iya kita akan dengan se-enak "UDEL" kita untuk meminta hasil instant dari sebuah bisnis? Jangankan yang berjalan bertahun tahun, yang baru seumur jagung saja deh. Masih mau hasil instant?

Pada dasarnya..
Bisnis yang kita lakukan adalah sebuah keharusan mencintai sebuah proses yang amat amat panjang, layaknya belgia melakukan hal ini..

Dari penjelasan di atas..
Setidaknya saya merangkum ada 3 point penting yang bisa kita pelajari dan bisa kita implementasikan langsung ke dalam bisnis kita...

PERTAMA - SADAR DIRI AKAN SEBUAH PROSES

Tidak bisa kita asal bilang bahwa apa yang di dapatkan belgia saat ini sebuah hal yang tiba tiba muncul. 18 tahun kurang lebih lamanya mereka menanamkan proses ini. 

Dan kita bisa meniru cara ini dalam bisnis kita. Pernah dengan kalimat seperti ini "Jangan asal bisnis, jika sudah menghasilkan, tetaplah konsisten setidaknya 5 tahun dulu. Setelah itu baru buka bisnis baru deh.". 

Jika pernah, sebenarnya kalimat ini lebih kepada mengarahkan kita untuk mencintai sebuah proses panjang di dalam bisnis itu sendiri. Dengan proses inilah, kita mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kita bayar dengan materi. 

Proses belgia selama 18 tahun itu pun, tidak bisa di bayar dengan gelontoran dana triliunan sekalipun, kan?

KEDUA - BELAJAR DAN BELAJAR DARI PARTNER SEKALIGUS LAWAN
Seperti yang saya jelaskan, di tahun 2000 adalah sebuah awal untuk belgia mengawali program cetak birunya. 

Di tahun itu juga, pemerintah belgia, khususnya federasi sepakbola disana berkunjung sekaligus belajar ke negara negara besar seperti perancis (negara yang waktu itu sukses dengan generasi zidane dan henry), belanda (belajar filosofi 4-3-3 total football dari Johan Cruyff), italia (belajar bertahan layaknya benteng italia kala itu), dan masih banyak negara lainnya. 

Dari sini, belajar dari lawan sekaligus partner juga sesuatu yang wajib dilakukan dalam bisnis. Ini tidak lepas dari rasa haus akan prestasi mereka. Pertanyaannya adalah, apakah anda sudah belajar dari lawan sekaligus partner anda? 

Banyak yang salah mengartikan lawan dalam dunia bisnis, padahal lawan adalah kawan terbaik untuk belajar, kan?


KETIGA - MENCIPTAKAN POLA YANG MENJADI PATEN DI DALAM SISTEM BELAJARNYA

Ketika program cetak biru sudah bisa di jalankan disana, seluruh klub mulai divisi terendah hingga tertinggi di wajibkan memakai formasi yang sama (4-3-3), setidaknya ini dilakukan oleh klub terbesar di belgia, yaitu anderlecht. Dari pola yang sama ini akhirnya muncul visi misi antar pemain yang sama juga. 

Dari pola yang sama inilah, akhirnya muncul generasi emas yang sama juga. Catatan pentingnya, kalau saya tidak salah ingat, indonesia sendiri sudah menerapkan cara ini sejak tahun 2015 lalu (tinggal lihat hasilnya ke depan ya hehe). 

Nah, dalam bisnis gimana? Apakah kita dalam bisnis kita sudah menciptkana pola itu sendiri? Pola sendiri terkadang memang membuat kita bosan (seperti pola tiki taka yang di anggap membosankan tapi spanyol juara eropa dua kali dan juara dunia 2010 hehe), tapi dari pola inilah, bisnis kita bisa stabil untuk menghasilkan "SESUATU"